Recent Post

Thursday, 20 July 2017



Apa itu Potensi Diri ?
Potensi artinya kemampuan atau kekuatan, yang bersifat fisik maupun psikis. Namun Potensi itu masih merupakan kekuatan dasar (“modal dasar”) yang harus diwujudkan dan dibuktikan secara nyata. Bila tidak demikian, maka potensi itu akan terpendam.
Contoh : Bila seseorang siswa disebut berpotensi tinggi seharusnya prestasi belajarnya juga terbukti baik.

Potensi diri adalah semua kekuatan, kelebihan, kecakapan yang dimiliki oleh seseorang, baik yang dibawa sejak lahir ( secara genetik ) maupun yang diperoleh dari pengalaman dan pelajaran (pendidikan).
(Sumber : Paket I Bimbingan karier, Depdikbud, 1984)

Nah, apa saja potensi Anda ? Bukankah setiap orang diberi sejumlah kekuatan dan kelebihan tertentu ! ?

Bentuk – bentuk Potensi
Persis seperti yang anda bayangkan, potensi memang banyak unsur dan ragamnya.
Potensi fisik misalnya, terdiri atas : keadaan jasmaniah, ukuran / bentuk dan penampilan fisik, kualitas inderawi ( daya melihat, mendengar, dll );
daya tahan tubuh, kesegaran, kebugaran, kelenturan, kelincahan, kekuatan ( gerak / kerja ), keseimbangan, dan kesehatan ( kesehatan gigi, mata, pernafasan, pencernaan, persendian, dll ).

Potensi non fisik antara lain : Intelegensi ( kecerdasan, bakat, minat, hobi, ciri / sifat kepribadian, kemantapan emosional, motivasi, sikap, kreativitas, daya tanggap, dan lain – lain.

Dewasa ini juga dikaji, tentang adanya potensi kecerdasan emosional ( emotional qoutient ), kecerdasan ( kemampuan ) dalam mengatasi kesulitan – kesulitan ( adversity qoutient ) dan potensi keimanan atau kecerdasan spiritual ( spiritual qoutient ).

Mengembangkan potensi diri
Kadang kita prihatin, melihat layu dan gugurnya kuncup bunga yang belum sempat mekar. Karena si empunya lalai tidak menyiramkan air segar.
Demikianlah kuncup – kuncup potensi diri kita. Ia butuh siraman air pengembangan. Ia butuh upaya dan kerja keras. Ia perlu kesabaran dan daya tahan. Lalaikah Anda, sang Empunya potensi itu ?
Sejenak telusurilah macam – macam potensi dan kekuatan Anda !!
a. Potensi Intelektual
Kemampuan intelektualnya adalah kecerdasan atau intelegensi. Satuan ukurannya ialah Intellegence Qoutient (IQ). Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasi lingkungan secara efektif ( Marthen Pali,1993 ).
Untuk mengetahui intelegensi dapat dilakukan dengan cara sekilas yakni mengamati hasil belajar sehari – hari (nilai ulangan harian sampai nilai rapor); atau secara teliti melalui pemeriksaan psikologis dengan tes intelegensi.
Yang terakhir ini menghasilkan angka – angka yang menggambarkan taraf kecerdasan tertentu, misalnya :

b. Kecerdasan Sosial
Tingginya taraf kecerdasan rasional (otak) terbukti belum menjamin gemilangnya prestasi seseorang dalam kehidupan sehari – hari ketika belajar / bergaul dan berinteraksi sosial secara nyata. Untuk itu, ada upaya mengidentifikasi jenis kecerdasan lain.
Dicobalah menemukan kecerdasan jenis lain itu, dan dinamai kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial ini, terdiri dari kepekaan sosial, komunikasi yang baik, empati, pengertian / pemahaman terhadap orang lain (Munandir, 1995).

c. Kecerdasan Emosional (Emotional Qoutient)
Kecerdasan emosional adalah intelegensi dunia perasaan seorang individu. Seorang pakar mengartikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan individu untuk mengenali emosi (perasaan) diri sendiri dan emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola emosi itu dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain (Goleman, 1999 dalam Ramli, 2001).
Bisa terjadi seseorang yang cerdas (otaknya) namun dapat menjadi sedemikian tidak rasional (menjadi “bodoh”). Mengapa ? Kcerdasan akademis (IQ) sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional. Dapat saja orang yang paling cerdas pun diantara kita, terperosok ke dalam nafsu tak terkendali dan meledak – ledak ! (Goleman, 1999).

d. Kecerdasan Emosional (Emotional Qoutient)
Bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar / bekerja dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan dengan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik.
Contoh : Seseorang yang berbakat melukis, akan lebih cepat bisa dan cepat menyelesaikan pekerjaan melukis tersebut, dibandingkan dengan orang lain yang tingkat bakatnya dibawahnya. Bakat (aptitude) juga bermakna potensi yang akan diwujudkan di waktu yang akan datang. Maksudnya bakat menunjukkan adanya peluang saja, yakni peluang keberhasilan (Munandir, 1995). Maka tidak heran ada istilah bakat terpendam. Dengan kata lain bakat harus disemaikan, diwujudkan, dan dikembangkan. Kalau tidak, lepaslah peluang keberhasilannya. Untuk mengembangkan potensi bakat perlu menggerakkan seluruh aspek.

JENIS BAKAT
Menurut beberapa referensi test bakat, dikenali adanya contoh jenis – jenis bakat, yaitu : bakat verbal, bakat numerikal. Verbal : Konsep – konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata – kata Numerikal : Konsep – konsep dalam bentuk angka – angka Skolastik : Kombinasi kata – kata dan angka – angka Abstrak : Aspek yang tidak berupa kata maupun angka, namun berbentuk pola, rancangan, diagram dengan ukuran – ukuran, bentuk dan posisi – posisinya. Mekanik : Prinsip – prinsip umum IPA, tata kerja mesin, perkakas, dan alat – alat lainnya. Relasi ruang : Mengamati, mencitrakan pola dua dimensi / berpikir dalam tiga dimensi.

Kecepatan Ketelitian Klerikal : Tugas tulis menulis, ramu meramu untuk kantor, laboratorium dan lain – lain. Bahasa : Penalaran analitis tentang bahasa, misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiar, editing, hukum, pramuniaga dan lain – lain.

Kecerdasan Spiritual
Suatu kecerdasan yang bersangkut paut dengan pengikatan diri dengan Zat Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan. Kecerdasan spiritual merupakan kepekaan batin seseorang untuk melihat dan merasakan perbedaan antara suatu kebaikan dan keburukan, suatu kemampuan diri untuk memilih dan berpihak kepada kebaikan dan merasakan nikmatnya seseorang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi akan tidak mudah cepat putus asa, pantang menyerah, hidupnya akan penuh dengan harapan dan ketenangan hati. Ia sadar bahwa dirinya itu milik Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan adalah sumber kebaikan.

Minat ( Interest )
Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Orang yang berminat pada suatu hal akan memberi perhatian, mencarinya, mengarahkan diri, berusaha mencapai / memperoleh sesuatu itu. (Munandir, 1995). Minat dapat membangkitkan “power”, kekuatan, dorongan yang mengarahkan kepada optimalisasi pendakian objek tertentu. Dengan minat, seseorang dapat menghadapi hal yang berat menjadi ringan, yang jauh akan terasa dekat, pelajaran yang sulit terasa mudah. Guilford, 1956, membedakan minat menjadi : minat vokasional menunjuk pada bidang – bidang pekerjaan.

Minat vokasional yaitu minat untuk memperoleh kepuasan dari kegiatan tertentu, misalnya petualangan, hiburan, apresiasi, artistik, ketelitian, dan lain – lain.
Minat Vokasional terdiri dari tiga faktor, yakni :
  1. Minat profesional yakni minat dan keilmuan, ekspresi aestitis (seni), dan kesejahteraan sosial.
  2. Minat komersial yaitu minat pada pekerjaan dunia usaha / bisnis, jual beli, periklanan, kesekretariatan, akuntansi dan sebagainya.
  3. Minat kegiatan fisik yaitu minat mekanik (tata kerja mesin), kegiatan luar (out door).
Minat juga dapat dibedakan sebagai berikut :
  1. Sekelompok orang yang suka / berminat bekerja dengan benda – benda (mesin, perkakas, tanaman di ruang terbuka).
  2. Sekelompok orang yang berminat pada pekerjaan administrasi, mengolah angka dan data, taat pada peraturan dan cermat.
  3. Mereka yang suka bisnis dan berorganisasi, mengajak / mempengaruhi dan mempresentasikan sesuatu.
  4. Mereka yang berminat pada kegiatan sosial : mengajar, merawat komunikasi, memberi informasi, dan lain – lain.
  5. Mereka yang berminat pada kegiatan ekspresi seni, intuitif, imajinasi dan kreativitas.
  6. Mereka yang berminat pada kegiatan mengamati, meneliti, menganalisis, mengevaluasi, lebih banyak berpikir dari pada bertindak.
  7. Sedangkan Kuder memilah minat menjadi : minat kegiatan luar (out door), mekanikal, komputasional, ilmiah, persuasif, artistik, kesusastraan, musik, pelayanan sosial, klerikal. Catatan : minat adalah hasil belajar, artinya minat dapat berubah – ubah sesuai dengan perkembangan wawasan dirinya. Yang saat ini diminati, mungkin pada saat mendatang tak disukai lagi.

0



Mengenali Diri
 
Siapa saya ?
Pertanyaan seperti di atas sangat sederhana, tetapi memerlukan jawaban yang sangat mendalam, karena banyak aspek dari diri yang harus di ungkap, diantaranya : Kelebihan dan kekurang saya, baik yang menyangkut fisik, psikis, minat dan bakat, cita-cita, kepribadian, kebutuhan-kebutahan pokok, gaya hidup yang saya inginkan, dan lain sebagainya.
Manusia sebagai makhluk yang unik, artinya antara yang satu dengan yang lain berbeda, tentu mempunyai jawaban yang berbeda pula dalam menjabarkan pertanyaan di atas. Dan tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan hidup Anda jabaran itupun dapat berubah-ubah. Hal ini di karenakan porses pengenalan dan pemahaman diri akan terus berlangsung dengan waktu yang tidak terbatas dan sepanjang waktu itu pula manusia akan terus berkembang.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki kekuatan dan potensi masing-masing. Tapi sampai saat ini masih banyak yang belum menyadari potensi di dalam dirinya sendiri. Padahal potensi setiap orang sangat menunjang kesuksesan hidupnya jika diasah dengan baik. Berikut tips mengenali potensi diri :
  1. Kenali diri sendiri. Coba buat daftar pertanyaan, seperti: apa yang membuat Anda bahagia; apa yang Anda inginkan dalam hidup ini; apa kelebihan dan kekuatan Anda; dan apa saja kelemahan Anda. Kemudian jawablah pertanyaan ini secara jujur dan objektif. Mintalah bantuan keluarga atau sahabat untuk menilai kelemahan dan kekuatan Anda.
  2. Tentukan tujuan hidup. Tentukan tujuan hidup Anda baik itu tujuan jangka waktu pendek maupun jangka panjang secara realistis. Realistis maksudnya yang sesuai dengan kemampuan dan kompetensi Anda. Menentukan tujuan yang jauh boleh aja asal diikuti oleh semangat untuk mencapainya.
  3. Kenali motivasi hidup. Setiap manusia memiliki motivasi tersendiri untuk mencapai tujuan hidupnya. Coba kenali apa motivasi hidup Anda, apa yang bisa melecut semangat Anda untuk menghasilkan karya terbaik, dan sebagainya. Sehingga Anda memiliki kekuatan dan dukungan moril dari dalam diri.
  4. Hilangkan negative thinking. Buanglah pikiran-pikiran negatif yang bisa menghambat langkah Anda mencapai tujuan. Setiap kali Anda menghadapi hambatan, jangan menyalahkan orang lain. Lebih baik coba evaluasi kembali langkah Anda mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Kemudian melangkahlah kembali jika Anda telah menemukan jalan yang mantap.
  5. Jangan mengadili diri sendiri. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam mencapai tujuan Anda, jangan menyesali dan mengadili diri sendiri berlarut-larut. Hal ini hanya akan membuang waktu dan energi. Bangkit dan tataplah masa depan. Jadikan kegagalan sebagai pengalaman dan bahan pelajaran untuk maju. Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak di mana setiap remaja puteri merasa tertantang untuk mencari jati dirinya sesuai dengan karakter dan panggilan jiwa. Terlebih lagi, saat ini remaja hidup di zaman yang bergerak sangat cepat, dengan kemajuan teknologi informasi mengakibatkan derasnya informasi tentang budaya baru yang menawarkan berbagai pilihan dan nilai-nilai baru bagi mereka. Perkembangan arus informasi inilah yang juga memengaruhi proses pencarian jati diri dan potensi yang dimiliki. Sementara pada saat yang bersamaan, para remaja dihadapkan pada norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekitarnya yang memberikan keterbatasan ruang untuk berkespresi. Situasi seperti ini yang memungkinkan terjadinya erosi identitas diri disebabkan oleh karena sang remaja puteri tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri seperti apa yang dia kehendaki, dan kemudian merasa harus tampil sebagai "orang lain". 
Potensi diri merupakan modal yang perlu kita ketahui. Kita gali dan kita maksimalkan. Karena sesungguhnya perubahan hanya bisa terjadi jika kita mengetahui potensi kita. Lalu mengarahkannya kepada tindakan yang tepat dan teruji. Jika itu terjadi, kita akan memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk melakukan sesuatu denga mantap. Ketahuilah sesungguhnya manusia memiliki dua sisi sikap potensial yang menonjol. Sisi positif dan sisi negatif. Kedua sisi ini masing-masing memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan diri kita. Baik buruknya diri kita merupakan refleksi dari dorongan positif atau negatifnya sikap kita. Karena Sikap menentukan segalanya. Potensi diri dapat digali dengan tahap mengenali diri. Bagaimana kita akan dapat menggali potensi dalam diri kita, tanpa kita mengetahui seperti apa diri kita sendiri.

Menggali Potensi Diri
Potensi diri yang bersifat fisik (fisiologis)
Tuhan telah membekali manusia dengan kelengkapan fisik yang sempurna. Anggota badan dan organ tubuh yang ada padanya, memungkinkan ia bekerjadan beraktivitas dengan mudah.

Potensi diri yang bersifat psikologis
Potensi adalah daya, kekuatan, kemampuan, kesanggupan dan kemampuan yang memungkinkan untuk dapat dikembangkan. Potensi psikologi adalah kemampuan dan tekat yang bula untuk mengembangkan sesuatu.

Potensi Akademis/Belajar
Sesuatu disebut berkualitas unggul jika sesuai dengan desain peruntukan atau kegunaannya. Demikian juga siswa atau pelajar yang berkualitas baik adalah yang mampu menyelesaikan tugas belajar atau akademik secara memadai

Potensi diri yang bersifat Spiritual Keimanan
Spirit adalah sumber kekuatan. Spirit adalah inti dan pusat hati nurani. Semua hal dalam hidup akan punya arti jika ada spirit bahkan hidup itu pun, akan bermakna jika dilandasi spiritualisme dan keimanan. Tanpa spirit dan iman, semua akan melemah, hancur lalu sirna. Dalam suasana bencana atau perang. Seorang ibu dalam kondisi mengenaskan. Ia tertatih-tatih menyeret kakinya yang berlumur darah. Dengan sisa-sisa tenanganya, ia gapai bayinya yang menangis kahausan tergolek di pasir bebatuan. Meskipun ia lunglai dan pingsan. Ini karena spirit.
 
Faktor-faktor apa saja yang membuat potensi diri Anda bisa tergali?
  1. Percaya diri. Kurangnya percaya diri bisa menghilangkan kesempatan Anda untuk menggali potensi diri Anda, akan tetapi tidak menghilangkan potensi.
  2. Hobi dan minat. Jika Anda mengerjakan sesuatu yang Anda sukai bahkan sebagai hobi atau minat pasti akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan (seharusnya). Jadi cobalah gali potensi yang sejalan dengan minat Anda, akan tetapi jangan lupakan yang bukan minat Anda.
  3. Pergaulan. Misal jika Anda punya pergaulan yang baik dengan orang yang pintar maka Anda akan jadi pintar.

0



A. Pengertian Asertif
Asertif adalah kemampuan untuk mengomunikasikan pikiran, perasaan dan keinginan secara jujur pada orang lain tanpa merugikan orang lain.
Apabila kita mampu mengungkapkan perasaan negatif (marah, jengkel) secara jujur sesuai dengan apa yang kita rasakan tanpa menyalahkan orang lain, maka kita telah mampu berperilaku asertif. Berperilaku asertif, tidak hanya terbatas untuk mengungkapkan perasaan yang positif (senang) tetapi juga yang negatif.
 
AGRESIF : lawan dari asertif = perilaku menyerang orang lain dengan kata-kata yang kasar, mempermalukan, merendahkan, melecehkan, menyalahkan, marah-marah yang cenderung merugikan orang lain.

NON ASERTIF : tidak mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain dengan tidak mengatakan apapun dan menggerutu dalam hati yang sama sekali tidak dipahami oleh orang lain.

B. Karakteristik Orang Asertif
Orang yang berperilaku asertif memiliki karakteristik antara lain :
  1. Mampu dan terbiasa mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain.
  2. Meminta pertolongan pada orang lain pada saat membutuhkan pertolongan.
  3. Sering bertanya pada orang lain pada saat sedang bingung.
  4. Pada saat berbeda pendapat dengan orang lain, mampu mengungkapkan pendapatnya secara jujur dan terbuka.
  5. Memandang wajah orang yang diajak bicara pada saat berbicara dengannya.
  6. Pada saat tidak ingin melakukan sesuatu pekerjaan, mampu berkata tidak.
C. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
 Faktor pengalaman masa kanak-kanak. Faktor tersebut dapat mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain :
  1. Apabila pada masa kanak-kanak terbiasa takut untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan karena takut orang lain tidak menyukai kita dan takut mengecewakan orang lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kita berperilaku non asertif ketika dewasa.
  2. Bila pada masa kanak-kanak, kita terbiasa meluapkan emosi tanpa kontrol maka hal ini mengakibatkan kita berperilaku agresif ketika dewasa.
  3. Pola Interaksi
Ada 3 pola interaksi yang terbentuk sebagai hasil pengalaman pada masa kanak-kanak, yaitu :
  1. I’m not OK – You’re OK. Saya tidak OK – kamu OK, maksudnya adalah : saya harus yakin bahwa apa yang saya katakan tidak akan menyinggung perasaanmu. Pola interaksi ini merupakan perilaku non asertif, karena membiarkan diri kita pasif dengan alasan takut mengecewakan orang lain.
  2. I’m OK – You’re not OK. Saya OK – kami tidak OK. Maksudnya : orang lain patut mendapatkan kemarahan dan hinaan dari saya. Pola ini merupakan perilaku agresif, karena bila kita membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang telah kita katakan.
  3. I’m OK – You’re OK. Saya OK – kamu OK. Maksudnya : saya bebas mengungkapkan apa yang saya rasakan dan saya bertanggungjawab terhadap perasaan saya. Pola interaksi ini merupakan perilaku asertif karena kita bebas mengungkapkan apa yang kita rasakan tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman.
D. Dampak Perilaku Asertif
Perilaku asertif seseorang dapat menimbulkan dampak seperti :
  • Tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi yang kita alami, dan orang lain juga memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
  • Tidak berperilaku agresif pada orang lain, bahkan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka.
  • Kedua belah pihak yang berkomunikasi merasa nyaman, tidak ada yang ingin menyakiti lawan bicaranya dan tidak ada yang merasa disakiti hatinya.
  • Tidak ada pihak yang merasa disalahkan dan dihina oleh keberadaan emosi negatif yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
  • Lawan bicara tidak terpancing untuk memberikan respons emosional.

E. Cara Menumbuhkan Perilaku Asertif
Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain :
  • Berusahalah dan biasakanlah berbicara dengan rasa percaya diri.
  • Berusahalah dan biasakanlah mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan jelas pada orang lain.
  • Biasakanlah memandang wajah orang yang Anda ajak bicara.
  • Biasakanlah mengungkapkan pendapat kita secara jujur dan terbuka pada orang lain.
  • Apabila Anda tidak ingin melakukan suatu pekerjaan maka katakan “tidak” (dengan kata-kata, nada, alasan yang bisa dimengerti serta diawali “maaf”).
  • Responslah emosi Anda dengan cara yang sehat untuk menghindari perilaku agresif.
Beberapa Langkah untuk Merespons Emosi Secara Sehat
  • Sadarilah emosi Anda, perhatikan emosi apa yang Anda rasakan. Misalnya : Apakah Anda takut? Apakah Anda senang?
  • Akuilah emosi Anda : Perhatikan emosi apa yang Anda rasakan dan kira-kira seberapa kuat.
  • Selidikilah emosi Anda tersebut tanpa ada penilaian. Katakan “Saya merasa terlalu tegang, jangan-jangan saya akan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin untuk dikatakan”.
0


A. Kebutuhan Dasar Manusia

Para psikolog mengatakan, rasa sukses dan bahagia akan diraih jika seseorang bisa menggabungkan tiga kecerdasan, yaitu intelektual, emosional, dan spiritual. Kecerdasan intelektual (IQ) berkait dengan keterampilan seseorang dalam menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. Jika pendidikan di Indonesia mengabaikan aspek keunggulan IQ, sulit bagi Indonesia untuk bersaing dalam bidang sains dan teknologi pada era global.

EQ yang tinggi akan membantu seseorang dalam membangun relasi social di lingkungan keluarga, kantor, bisnis, ataupun social. Bagi seorang manajer, kecerdasan emosional merupakan syarat mutlak. Pelatihan EQ ini amat penting guna menumbuhkan iklim dialogis, demokratis, dan partisipatif karena semua menuntut adanya kedewasaan wmosional dalam memahami dan menerima perbedaan. Pluralitas etnis, agama, dan budaya akan menjadi sumber konflik laten jika tidak disertai budaya dialogis dan sikap empati.

Salah sau yang tidak kalah penting adalah kecerdasan spiritual (SQ). kecerdasan ini berkaitan dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan untuk membangun relasi social, SQ mempertanyakan makna, tujuan, dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, dalam buku The Ultimate Intelligence, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup jika tidak disertai kedalaman spiritual.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang. Yang fenominal, Stephen R. Covey meluncurkan buku The 8th Habit (2004). Padahal, selama ini, dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia The Seven Habits. Rupanya, Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas dan kehabisan energy dan berbelok arah. (Sumber: Kompas)

Tulisan di atas menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai potensi yang diberikan Tuhan. Potensi itu merupakan bekal untuk menjalani kehidupan seseorang. Berbagai potensi tersebut mewakili berbagai dimensi, seperti dimensi fisik, jiwa, dan rohani. Dimensi tersebut akan membentuk manusia menjadi lebih baik dan siap untuk dikembangkan.

Setiap manusia pasti mengalami perkembangan dalam hidupnya. Namun, perkembangan yang dialami setiap individu berbeda-beda. Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan, perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif (maju) yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Istilah perkembangan lebih bermakna pada perubahan secara kualitatif. Perubahan itu merupakan gabungan dari berbagai struktur dan fungsi tubuh yang kompleks, seperti kemampuan menggerakkan badan, berjalan,dan berbicara. Perubahan itu juga mencakup pertambahan beberapa sentimeter tinggi badan seseorang.

Pada dasarnya, ada dua proses perkembangan yang saling bertentangan dan terjadi secara serempak selama kehidupan, yaitu pertumbuhan (evolusi) dan kemunduran (involusi). Keduanya dimulai dari pembuahan (pertemuan antara sperma dan ovum) dan berakhir saat kematian. Dalam tahun-tahun pertama, pertumbuhan lebih banyak berperan daripada perubahan yang bersifat kemunduran yang juga terjadi semenjak kehidupan janin. Pada kehidupan selanjutnya, perubahan yang bersifat kemunduran lebih banyak berperan walaupun pertumbuhan tidak berhenti. Misalnya, rambut terus tumbuh, sedangkan sel-sel tubuh terus berganti.

Setiap manusia mengalami perkembagnan, baik fisik, emosi, social, kognitif (pikiran), maupun spiritual. Sebagai pribadi, manusia mengingnkan keseimbangan dalam perkembangan fisik, emosi, social, kognitif (pikiran), dan spiritualnya. Untuk dapat berkembang secara seimbang, setiap kebutuhan manusia harus terpenuhi dengan cukup. Misalnya, ketika merasa lapar, manusia perlu makan. Ketika manusia tidak tahu tentang sesuatu, manusia perlu belajar. Ketika manusia merasa sedih, manusia perlu sedikit tertawa agar merasa senang. Ketika manusia merasa kesepian, manusia perlu bergaul dengan teman. Ketika manusia merasa hidupnya “kering”, manusia perlu ibadah agar hidup lebih sejuk dan bermakna.

Dalam buku Tantangan Membina Kepribadian disebutkan beberapa kebutuhan manusia. Kebutuhan itu mencakup kebutuhan jasmani, kebutuhan intelektual, kebutuhan emosional, kebutuhan social, dan kebutuhan rohani. Penjelasan berbagai kebutuhan dasar manusia dapat dilihat berikut ini.

1. Kebutuhan Jasmani/Fisik
Kebutuhan jasmani yang utama adalah pangan (makan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal). Namun, di antara kebutuhan jasmani tersebut terdapat kebutuhan yang paling utama, yaitu kebutuhan makan. Jika kebutuhan akan makan sudah terpenuhi dengan baik, kesehatan dan kebugaran akan tetap terjaga karena gizi sudah terpenuhi. Untuk menjaga kebugaran tubuh, kita juga perlu berolahraga dan beristirahat dengan cukup.

2. Kebutuhan Intelektual
Sebagai manusia, kita harus mengenal diri sendiri dan perlu mengenal dunia sekitar. Dunia sekitar kita sangat cepat berkembang dan bahkan sangat maju. Oleh karena itu, dibutuhkan perkembangan intelektual, agar tidak tertinggal dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Kebutuhan intelektual biasanya, dikaitkan dengan kecerdasan otak, pemikiranrasional, pemikiran logis, serta kemampuan akademis. Kecerdasan intelektual , yaitu kecerdasan yang menitikberatkan kemampuan pikiran/rasio untuk menganalisis atau kemampuan untuk menggunakan informasi intelektual.
Yang termasuk kecerdasan intelektual adalah memiliki kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, atau memiliki pengetahuan tentang suatu hal. Misalnya, Rudi mengguankan kemampuan matematikanya untuk menghitung hasil penjualan kue.
Menurut Mas Udik Abdullah dalam buku yang berjudul Meledakkan IESQ dengan Takwa dan Tawakal, kinerja akal dapat dioptimalkan dengan cara-cara berikut.
  1. Mengatur pola makan. Makanan yang baik adalah makanan yang dibutuhkan oleh tubuh dan bermanfaat untk meningkatkan kenerja tubuh. Jika kinerja tubuh bisa bekerja secara optimal, maka kemampuan berpikir seseorang akan meningkat. Hal ini disebabkan otak dan seluruh syaraf tubuh juga akan bekerja dengan baik dan optimal.
  2. Belajar dengan cara yang benar. Hal tersebut berkaitan dengan usaha untuk memiliki kemauan yang kuat dalam memperkaya pengetahuan, keterampilan, disiplin, berani menghadapi kesulitan dalam belajar, rajin, tekun, rajin membaca, bertanya jika tidak tahu, dan sebagainya.
  3. Tidak malas mengulang pelajaran. Misalnya, dengan mengingat-ingat apa yang pernah dipelajari.
  4. Tidak menyia-nyiakan waktu dengan aktivitas yang tidak bermanfaat dan merusak, seperti menonton film atau membaca cerita yang mengandung unsure pornografi.
3. Kebutuhan Emosional
Kebutuhan emosional sering disebut sebagai kebutuhan psikologis. Kebutuhan emosional meliputikemampuan menerima diri, kasih saying, rasa aman, kebebasan, dan kesuksesan. Dengan terpenuhinya kebuthan-kebutuhan emosional tersebut seseorang akan meningkatkan energy mentalnya dlam menumbuhkan kreativitas. Misalnya, orang yang bahagia dan mendaptkan cukup perhatian dari orangutan akan mengembangkan dunia di luar dirinya, seperti mencari informasi.
Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence menyatakan bahwa keberhasilan dalam kehidupan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kita dalam mengelola emosi daripada kecakapan intelektual (IQ) kita. Kecerdasan intelektual tidak ada nilainya jika emosi lebih dan tidak terkendali. Misalnya, berapa banyak orang yang meiliki skor IQ tinggi, namun gagal meraih prestasi karena sikapnya yang sering marah-marah dan mudah putus asa.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk “mendengarkan” bisikan emosi. Selain itu, kecerdasan emosional dapat menjadi sumber informasi penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Kecerdasan emosional juga mencakup kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya saat menghadapi situasu yang menyenangkan ataupun menyakitkan. Misalnya, orang yang memilii kecerdasan emosional tinggi tidak akan meminta sesuatu ketika orangtuanya sedang sedih atau kesal. Orang tersebut akan berpikir bahwa hal itu akan semakin memperburuk suasana dan ia tidak akan mendapat sesuatu yang diinginkan.

Kecerdasan emosional mencakup lima bidang utama, yaitu mengelola emosi (menunda kepuasan dan mengendalikan dorongan), mampu memotivasi diri dan disiplin diri untuk mencapai keinginan, mengetahui emosi seseorang, mempertimbangkan emosi orang lain, serta menangani hubungan antara dirinya dan orang lain.

Kebutuhan emosional dapat diupayakan sejak kanak-kanak dari orangtua mereka. Jika terus-menerus keperluan emosional seseorang terpenuhi, kecerdasan emosionalnya juga cenderung tinggi.
Meningkatkan kecerdasan emosional dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.
  • Melatih diri agar bersikap tenang. Orang yang tidak tenang tidak akan punya kemampuan berpikir jernih, sehingga langkah yang ditempuhnya cenderung tidak memiliki perhitungan baik dan buruk. Jika menghadapi masalah atau kejadian apa pun, cobalah diam sesaat, tarik napas panjang, lalu keluarkan secara perlahan-lahan. Ucapkan dengan penuh penghayatan sebuah kalimat baik, misalnya “itu hal yang mudah”, “Tuhan, tolong aku”, atau “Aku pasti bisa menyelesaikannya”.
  • Berpikir sebelum bertindak. Manusia diberikan kelebihan oleh Tuhan berupa akal. Oleh karena itu, syukurilah nikmat tersebut. Caranya, gunakanlah akal tersebut untuk membedakan mana perilaku yang baik dan yang buruk. Akal juga dapat membuat kita mengetahui hall-hal yang bermanfaat dan yang merusak.
  • Memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri. Setiap orang ingin diperlakukan dengan baik. Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik dapat memahami apa yang diinginkan dirinya dan orang lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.
  • Sabar (menerima dengan ikhlas). Sabar itu meliputi sabar dalam menjalankan kebaikan, sabar dalam menjauhi yang berbahaya, dan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Misalnya, ketika menghadapi kekalahan, cobalah menerimanya dengan ikhlas.
  • Menundukkan hawa nafsu. Cobalah menahan segala nafsu yang dianggap dapat membuat situasi menjadi lebih buruk. Pikirkan apa dampaknya jika kita mengikuti hawa nafsu yang negative. Misalnya, jika teman kita menyebar berita bohong tentang kita, tahanlah rasa marah kita. Caranya, tidak marah di depan orang banyak. Berpikirlah bahwa marah di depan umum dapat merusak nama baik kita. Temukanlah cara yang bijak untuk menegur kesalahannya. Temui ia secara pribadi. Lalul tanyakan alas an ia melakkukan hal itu. Setelah itu, mintalah ia untuk memperbaiki nama baik kita.
4. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan social adalah kebutuhan yang berhubungan degnan orang lain. Kebutuhan ini tibul didasari pemahaman bahwa manusia merupakan makhluk social. Kebutuhan social antara lain penerimaan dan perhatian, status dan penghargaan, ambil bagian dan kerja sama, serta persahabatan dan cinta. Kebutuhan social dapat terjadi pada setiap orang yang ingin diterma dan diperhaitkan dalam suatu kelompok. Jika kita ditolak oleh kelompok tertentu, kita cenderung merasa kurang berharga. Oleh karena itu, kita akan berupaya agar ada anggota kelompok yang mau bermain dengan kita.

Kebutuhan akan status dan penghargaan juga diperlukan dalam kehidupan. Status berkaitan dengan kedudukan seseorang di antara orang lain. Misalnya, status sebagai pelajar, ketua kelas, kapten kesebelasan, dan ketua RT. Penghargaan adalah perhatian dalam bentuk respon positif, seperti kekaguman atau pujian dari orang lain.

Kebutuhan berpartisipasi dan bekerja sama juga sangat penting, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Misalnya, menjadi salah satu panitia dalam perayaan 17 Agustus atau menjadi salah satu kakak asuh bagi anak yang tidak mampu. Alangkah tidak enaknya jika kita menyendiri atau bahkan dikucilkan oleh teman. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam suatu aktivitas membuat kita merasa dihargai, berarti, dan bermanfaat bagi orang lain. Kita akan bangga terhadap kesuksesan yang dicapai secara berkelompok, baik bersama teman-teman maupun organisasi.

Persahabatan dan cinta juga termasuk kebutuhan social yang menuntut pemenuhan kebutuhan. Hidup tanpa sahabat dan orang yang dicintai akan terasa hambar dan tidak bergairah. Persahabatan adalah bentuk cinta yang sederhana. Dengan sahabat, kita dapat menumpahkan perasaan, rahasia, atau sekadar berbagi cerita.

Kita juga ingin mencintai dan dicintai. Dengan cinta, kita dapat berjuang menghadapi tantangan hidup. Kebutuhan akan cinta tidak selalu didapat melalui lawan jenis. Rasa cinta dapat diperoleh melalui orang-orang di sekitar kita, seperti orangtua, adik, kakak, saudara, atau teman. Inilah kebutuhan akan cinta yang terpenting.

5. Kebutuhan Rohani (Spiritual)
Kebutuhan rohani berhubungan dengan cinta Tuhan, penyelamatan, cita-cita, dan watak. Mengenal Tuhan tidaklah cukup. Kita juga harus mencintai-Nya karena Tuhan juga mencintai kita sebagai umat manusia. Selain kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosional, kita juga harus mengenal kecerdasan spiritual. Seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan rohani berarti mempunyai kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi/baik.

Kecerdasan spiritual dapat dipahami dengan kekuatan intuisi yang tajam untuk melihat kebenaran yang paling dalam. Kecerdasan ini akan masuk ke dalam tahap kesadaran dan tahap penghayatan hidup, sehingga membuat kita hidup lebih toleran, terbuka, jujur, adil, dan penuh cinta. Dari kecerdasn itulah, kita dapat menuju ke dalam kearfan dan dapat meraih kebahagiaan spiritual. Kecerdasan spiritual itu sendiri berada di seputar jiwa dan bersifat mempersatukan.

Menurut Kisdarto Atmosoeprapto dalam bukunya yang berjudul Temukan Kembali Jati Diri Anda, indikasi dai SQ yang telah berkembang dapat dilihat berikut ini.
  • Luwes atau fleksibel dan mudah menyesuaikan diri. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ia yakin Tuhan memberikan berbagai potensi untuk dikembangkan. Ia juga yakin bahwa Tuhan akan selalu menjaga setiap hamba-Nya. Oleh karena itu, ia menganggap situasi atau hal baru sebagai tantangan yang dapat mengembangkan dirinya, sehingga membantunya mudah menyesuaikan diri dalam kondisi dan situasi apapun.
  • Mempunyai kesadaran diri yang tinggi. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan lebih mengenal siapa dirinya, bagaimana sifat dan karakternya dalam menghadapi suatu situasi, apa tujuan hidupnya, serta apa tugas dan kewajibannya. Ia juga akan memegang teguh prinsip hidupnya.
  • Kuat dalam menghadapi kesulitan. Orang yang memiliki kecerdasanspiritual akan mampu menemukan sisi positif dari setiap kejadian. Setiap kesulitan akan dimaknaisebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan keterampilan diri. Ia yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kesanggupan haba-Nya. Oleh karena itu, ia akan menjalani segala kesulitan dengan penuh kesabaran.
  • Terinspirasi oleh visi dan nilai-nilai. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan berpikir sebelum melakukan sesuatu. Ia akan melakukan sesuatu yang sesuai dengan visi dan nilai-nilai yang diyakininya. Misalnya, ia tidak berbohong karena berbohong dilarang agama dan dapat merusak kepercayaan orang terhadap dirinya.
  • Menolak tindakan yang bisa menimbulkan kerusakan. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan selalu menjaga setiap nikmat yang diberikan Tuhan. Misalnya, ia akan membuang sampah pada tempatnya. Ia menyadari bahwa pelanggaran terhadap hal itu akan merusak keindahan, kebersihan, dan kesehatan.
  • Melihat hubungan di antara keberagaman. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu melihat hubungan agama atau nilai spiritual dari setiap perilaku atau sesuatu hal. Misalnya, kehebatan cara kerja otak tidak lain karena kehebatan Yang Menciptakan otak. Oleh karena itu, manusia patut bersyukur.
  • Selalu terangsang untuk menanyakan “Apa?” dan “Mengapa?”. Lalu mencari jawabannya secara fundamental (mendasar).
B. Pengertian Integritas Diri
Integritas adalah kesamaan antara kata dan perbuatan. A adalah A, dan B adalah B. orang yang memiliki integritas adalah orang yang perkataannya bisa dipegang. Integritas diri adalah suatu pemahaman yang membuat terwujudnya pemenuhan yang seimbang dan sinergis terhadap semua kebutuhan-kebutuhan manusia. Misalnya, terpenuhinya kebutuhan terhadap makanan, prestasi di sekolah, pergaulan, pelaksanaan ibadah, dan keikutsertaan dalam kegiatan social kemasyarakatan.

Manusia dapat berkembang secara utuh tanpa ada satu pun keperluan yang terabaikan. Dengan kata lain, kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi secara seimbang, tepat, dan proporsional (sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan). Misalnya, makan secara teratur, belajar setiap hari, bergaul dengan teman, peduli terhadap sesame, dan melaksanakan kewajiban agama.

Integritas diri memungkinkan semua perasaan diungkapkan dengan kejujuran dan ketulusan meskipun kita harus melaksanakan sesuatu ytidak menyenangkan. Jika kita melakukannya dengan alasan yang benar, semuanya akan dapat diterima. Individu-individu yang mempunyai integritas diri akan memancarkan kepercayaan diri dan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri.

C. Manfaat Integritas Diri
Hidup yang terintegrasi adalah hidup yang terpenuhi kebutuhan dasar secara seimbang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu mengupayakan agar kebutuhan jasmani, intelektual, emosional, social, dan rohani terpenuhi secara seimbang. Apabila kita mampu mewujudkan integritas diri sendiri, kita akan memperoleh manfaat yang besar. Adapun manfaat-manfaat tersebut dapat dilihat berikut ini.
  1. Secara fisik, kita akan merasa sehat dan bugar. Kita selalu siap melakukan aktivitas atau pekerjaan sehari-hari. Sebagai seorang siswa, kita harus menjaga kesehatan agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Jika kita sering sakit, kita akan sering ketinggalan pelajaran. Di sekolah, kita sering menjumpai teman-teman yang terkena penyakit, seperti flu, sakit mata, dan cacar. Jika kesehatan kita terjaga degnan baik, kita tidaak akan mudah tertular penyakit-penyakit tersebut. Hal yang sangat penting adalah kita menyadari bahwa kesehatan dan kebugaran fisik akan mempengaruhi kondisi mental. Ingatlah semboyan, di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yng sehat.
  2. Secara intelektual, kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kita. Otak kita terlatih berpikir secara ilmiah, terlatih menganalisis, dan terlaith membuat kesimpulan yang logis dan rasioanal. Kita semakin mampu mengembangkan sifat kritis dan rasional. Selain itu, kita juga mampu mengolah berbagai data dan informasi yang samapi kepada kita. Kemampuan intelektual yang baik memungkinkan kita untuk mengikuti program studi yang kita inginkan. Dengan kemampuan menganalisis yang baik, kit adapt menjahkan diri dari asumsi-asumsi yang bersifat subjektif semata. Orang yang mampu melakukan penelitian dan menghasilkan berbagai penemuan ilmiah adalah orang-orang yang berhasil mengembangkan kemampuan intelektual secara memadai.
  3. Secara emosional, kemampuan EQ dalam diri seseorang akan membuat orang itu menjadi penuh motivasi, sadar diri, empati, simpati, solidaritas tinggi, dan sarat kehangatan emosional dalam interaksi kerja. Kematangan emosional yang dimiliki seseorang akan membuatnya dapat bekerja di bawah tekana. Itulah sebabnya ada banyak orang yang memiliki IQ sedang bahkan rendah, namun dapat sukses dalam hidupnya karena memiliki EQ yang tinggi, namun mengalami kegagalan dalam hidupnya karena memiliki tingkat EQ yang rendah. Kecerdasan emosional berada di wilayah emosi dan bersifat asosiatif. Kecerdasan itu akan membuat seseorang mampu menyesuaikandiri terhadap apapun yang sedang dihadapinya.
  4. Secar spiritual, kita dapat memaknai segala sesuatu, termasuk pengalaman-pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, seperti keberhasilan, kegagalan, dan penderitaan. Kecerdasan spiritual membuat kita dapat melihat berbagai kenyataan atau fenomena kehidupan dalam perspektif yang lebih dalam, utuh, dan menyeluruh dalam mengatasi keragaman dan perbedaan yang dihadapi. Kecerdasan ini juga membuat seseorang tidak mudah terombang-ambing oleh kekacauan yang terjadi akibat arus gelombang yang kuat.
  5. Secara social, kita semakin mampu mengembangkan hubungan baik satu sama lain. Kita semakin betah bersama orang lain dan mau bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menuntut kekompakan dan kerja sama yang baik. Kita memiliki kepekaan hati dan perasaan untuk selalu memberi tempat bagi orang lain di dalam hati kita. Misalnya, interaksi dengan lingkungan sekitar membuat kita tahu kesulitan orang lain. Hal tersebut akan mendorong kita untuk ikut membantu sehingga kita merasa berharga dan bermanfaat bagi orang lain. Kepekaan seperti ini akan membuat kita lebih tanggap terhadap kebuthan dan harapan orang lain, sehingga turut membuat suasana hidup bersama menjadi nyaman, damai dan menyenangkan. Situasi seperti inilah yang menjadi dambaan hati setiap orang.
D. Pribadi yang Memiliki Integritas Diri
Menurut Antonius Atosokhi Gea, seorang pribadi yang memiliki integritas diri yang tinggi akan tampak sebagai berikut.
  1. Selalu tampil dengan fisik segar dan bugar. Tidak banyak keluhan mengenai kesehatan fisiknya. Ia dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang banyak melibatkan fisik. Bahkan, tugas-tugas berat sekalipun dapt diatasinya.
  2. Dapat diandalkan secara intelektual. Orang yang dimaksud adalah orang yang intelek dan mudah mempelajari hal baru dengan cepat. Ia dapat mempelajari banyak hal, senang melibatkan diri dalam kegiatan penelitian, mampu mencari solusi/pemecahan dari masalah yang ada, serta kritis dan rasional dalam bertindak.
  3. Tidak mudah terbawa emosi, sabar, dan kuat dalam menghadapi tantangan atau tekanan. Ia mapu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Selain itu, ia memiliki motivasi yang tinggi dalam menjalankan kegiatannya. Misalnya, tidak akan bersedih ketika putus cinta karena dapat membuatnya malas untuk makan, bergaul, atau belajar.
  4. Memiliki kehidupan rahani yang mendalam. Ia mampu bersikap arif dan bijaksana dalambertindak, serta tidak hanya menggunakan pertimbangan ekonomi dan untung rugi saja dalam mengambil keputusan. Ia memiliki orientasi nilai moral atau agama sebagai penuntun penting dalam hidupnya. Selain itu, ia juga berani dan bertanggung jawab dalam bertindak, adil, dan berpikiran maju.
  5. Luwes dalam pergaulan. Ia suka berada di tengah-tengah orang lain dan mau bekerja sama dengan banyak orang. Hal ini akan memudahkannya diterima dan menerima orang lain. Oleh karena itu, orang lain merasa senang dan beruntung dapat bergaul dengannya.


0

Wednesday, 19 July 2017



Disini saya sebagai penulis konten blog e-konseling tidak bermaksud untuk menguliahi sahabat sekalian. Saya hanya ingin share atau berbagi dengan maksud belajar, feedback ataupun komentar benar-benar saya butuhkan untuk membangun karya yang lebih baik lagi. Baik, saya akan memulainya dengan istilah konseling karena blog ini memang mengenai konseling.

Barangkali sahabat sudah tak asing lagi dengan istilah konseling bukan? Menurut ensiklopedia bebas wikipedia, istilah konseling memiliki arti  yaitu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons pada tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered).

0

Author